Mengapa AI Tidak Akan Membunuh Industri Software?

JURNAL IT - Dunia investasi baru saja melewati badai kecemasan. Ketakutan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan melumat industri perangkat lunak (SaaS) sempat memicu aksi jual masif yang menghapus nilai pasar sekitar USD 1 triliun dalam hitungan hari.

CEO Nvidia, Jensen Huang

Namun, di tengah kepanikan tersebut, CEO Nvidia, Jensen Huang, muncul dengan pesan yang kuat, Wall Street telah salah menilai situasi ini.

Ketegangan dimulai ketika munculnya alat AI agen seperti Claude Cowork dari Anthropic, yang memicu kekhawatiran bahwa model bisnis SaaS tradisional akan menjadi usang. 

ETF sektor perangkat lunak bahkan sempat anjlok lebih dari 25% di awal tahun 2026 karena investor takut AI akan menggantikan perangkat lunak secara keseluruhan. 

Namun, Huang menegaskan bahwa gagasan AI akan menggantikan perangkat lunak adalah hal yang paling tidak logis di dunia.

Alih-alih menjadi ancaman, AI justru diposisikan sebagai penguat bagi platform yang sudah ada. 

Perusahaan raksasa seperti ServiceNow, Snowflake, SAP, dan Oracle tidak akan lenyap, melainkan akan terevolusi oleh agen-agen AI yang beroperasi di atas sistem mereka.

Perubahan fundamental yang terjadi adalah penurunan hambatan penggunaan. 

Perangkat lunak yang dulunya membutuhkan operator ahli kini menjadi platform yang dapat diakses oleh siapa saja melalui agen cerdas. 

Dalam pandangan ini, perangkat lunak perusahaan bukanlah korban AI, melainkan kendaraan pengantar bagi teknologi AI itu sendiri.

Keyakinan Huang ini bukan sekadar retorika, melainkan didukung oleh angka-angka yang mencengangkan. 

Nvidia baru saja mencatatkan pendapatan kuartal keempat sebesar USD 68,1 miliar, melonjak 73% dibandingkan tahun sebelumnya. 

Margin laba kotor perusahaan pun pulih ke angka 75%, melampaui ekspektasi pasar.

"Adopsi agen di tingkat perusahaan sedang meroket," ujar Huang. 

Perusahaan-perusahaan di seluruh dunia kini berlomba-lomba berinvestasi dalam komputasi AI, yang ia sebut sebagai pabrik yang menggerakkan revolusi industri AI.

Arah masa depan mulai terlihat lebih jelas ketika teknologi seperti Claude Cowork mulai diintegrasikan ke dalam aplikasi bisnis yang sudah ada seperti Slack, Gmail, dan alat-alat Intuit. 

Hal ini memperkuat narasi bahwa AI akan memperkaya, bukan menggusur, platform yang telah mapan.

Pada akhirnya, apa yang kita saksikan saat ini bukanlah akhir dari era perangkat lunak, melainkan awal dari babak baru di mana perangkat lunak menjadi lebih cerdas dan inklusif. 

Seperti yang ditunjukkan oleh hasil gemilang Nvidia, kita sedang berada di ambang revolusi di mana teknologi tidak lagi hanya menjadi alat bantu, melainkan mitra cerdas yang memperluas batas kemampuan manusia.(*)

Posting Komentar

0 Komentar