JURNAL IT - Baru-baru ini, sebuah terobosan mengejutkan datang dari komunitas modding ketika konsol PlayStation 5 (PS5) berhasil menjalankan sistem operasi Linux.
Berkat eksploitasi keamanan yang ditemukan oleh peneliti keamanan ternama, Andy Nguyen atau lebih dikenal dengan TheFlow, menjadikan konsol yang biasanya tertutup ini kini dapat berfungsi layaknya sebuah "Steam Machine" dengan sistem operasi terbuka.
Eksploitasi ini bekerja pada konsol PlayStation 5 yang menjalankan perangkat lunak sistem (firmware) versi 4.5 atau di bawahnya.
Prosesnya melibatkan pengiriman payload tertentu yang membuat konsol masuk ke mode istirahat (rest mode), dan saat bangun, konsol akan memuat Linux dari perangkat USB atau SSD eksternal yang terhubung.
Setelah berhasil masuk, pengguna mendapatkan akses penuh ke desktop Linux, khususnya Ubuntu 26.04 LTS.
Sistem ini mampu mengakses seluruh delapan core dan 16 thread dari prosesor Zen 2, serta unit pemrosesan grafis (GPU) dengan 36 compute units secara utuh.
Frekuensi CPU dapat ditingkatkan hingga 3,5GHz dan GPU hingga 2,23GHz melalui penggunaan alat boost mode opsional.
Performa Benchmark dan Gaming
Dalam pengujian menggunakan Geekbench 6, PS5 yang telah di-boost menghasilkan skor multi-core sebesar 7566, yang setara dengan prosesor PC Ryzen 5 3600.
Sementara itu, skor single-core sebesar 1127 menempatkannya di kelas yang sama dengan Core i7 7700.
Untuk pengujian game nyata melalui Steam (menggunakan lapisan kompatibilitas Proton), hasilnya cukup mengesankan namun memiliki keterbatasan:
Black Myth Wukong, pada resolusi 1080p, Linux memberikan performa 99,9 persen dari performa asli PlayStation 5. Penggunaan boost mode bahkan memberikan tambahan performa sekitar tiga persen.
| Black Myth Wukong bukanlah game PS5 yang dioptimalkan dengan baik, jadi mungkin tidak mengherankan jika di sinilah kita mendapatkan kecocokan terdekat antara PS5 Linux dan game PS5 yang sebenarnya. |
Crimson Desert, performa tercatat sekitar 98,9 persen dibandingkan versi konsol asli. Namun, ditemukan masalah visual seperti langit yang tidak merendernya dengan benar.
Control, game ini berhasil dijalankan pada 1080p dengan kecepatan 50-60fps, bahkan dengan fitur Ray Tracing yang diaktifkan.
Kendala Memori dan Resolusi
Meskipun pencapaian ini luar biasa, menjalankan Linux di PS5 bukan tanpa hambatan. Masalah terbesar terletak pada manajemen memori.
Pada sistem PS5 asli, pengembang memiliki kontrol penuh atas memori terpadu (unified RAM). Namun di Linux, alokasi dinamis untuk grafis tampaknya terbatas hanya sekitar 5,5GB.
Hal ini menyebabkan masalah stabilitas dan stuttering pada game berat seperti Avatar: Frontiers of Pandora atau Pragmata.
Selain itu, pengujian saat ini hanya mendukung output resolusi 1080p. Upaya untuk meningkatkan resolusi ke tingkat yang lebih tinggi sering kali menyebabkan masalah layar hitam (black screen).
Proyek PS5 Linux merupakan pencapaian teknis yang memukau karena memungkinkan akses penuh ke perangkat keras konsol yang tangguh.
Namun, keterbatasan memori di lingkungan Linux ini justru menegaskan betapa efisiennya sistem operasi asli PS5 dalam mengelola sumber daya perangkat keras untuk gaming.
Bagi para penggemar teknologi, ini adalah alternatif langka untuk mengeksplorasi potensi tersembunyi di balik mesin gaming paling populer saat ini.(*)
0 Komentar