JURNAL IT - Bagi banyak umat Muslim, momen menjelang berbuka puasa sering kali dianggap sebagai satu-satunya waktu "emas" untuk memanjatkan doa.
Suasana syahdu di sore hari sembari menunggu azan Magrib memang terasa istimewa.
Namun, tahukah Anda bahwa peluang agar doa dikabulkan sebenarnya membentang jauh lebih luas dari sekadar waktu berbuka saja?
Berdasarkan riwayat dari Rasulullah SAW, ditegaskan bahwa doa orang yang sedang berpuasa adalah doa yang tidak akan tertolak.
Meskipun terdapat berbagai variasi riwayat mengenai kapan tepatnya waktu mustajab tersebut, seperti "ketika berbuka" atau "saat berbuka", riwayat yang dianggap paling kuat menekankan pada redaksi "hingga ia berbuka" (hatta yuftira ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ).
ﺛَﻼَﺛَﺔٌ ﻻَ ﺗُﺮَﺩُّ ﺩَﻋْﻮَﺗُﻬُﻢُ ﺍﻹِﻣَﺎﻡُ ﺍﻟْﻌَﺎﺩِﻝُ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺋِﻢُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﻔْﻄِﺮَ ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﺍﻟْﻤَﻈْﻠُﻮﻡِ
“Ada tiga do’a yang tidak tertolak: (1) doa pemimpin yang adil, (2) doa orang yang berpuasa sampai ia berbuka, (3) doa orang yang terzhalimi.” (HR. Tirmidzi no. 3595, Ibnu Majah no. 1752.)
Hal ini membawa sebuah pemahaman baru yang sangat berharga, doa yang mustajab bagi orang yang berpuasa berlaku sepanjang ia berada dalam keadaan puasa, mulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam.
Jadi, tidak perlu menunggu sore hari, baik itu setelah subuh, waktu zuhur, maupun saat matahari terik di siang hari, lisan seorang mukmin yang tengah berpuasa memiliki kekuatan khusus di hadapan Allah SWT.
Keistimewaan Doa di Akhir Ibadah
Walaupun seluruh waktu puasa adalah waktu yang mustajab, sumber ini juga menjelaskan mengapa banyak orang tetap fokus berdoa di penghujung hari.
Dalam tradisi ibadah, akhir dari sebuah amal memiliki keistimewaan tersendiri dalam berdoa, serupa dengan keutamaan berdoa di akhir salat.
Setelah seorang hamba mengerahkan seluruh usahanya dan merasa lelah dalam menjalankan ibadah seharian penuh, momen-momen terakhir sebelum berbuka menjadi waktu yang sangat baik untuk bersimpuh memohon kepada-Nya.
Namun, poin utamanya tetaplah konsistensi, jangan membatasi doa hanya pada waktu tertentu saja, karena status sebagai "orang yang berpuasa" itulah yang menjadi kunci pembuka pintu langit.
Selama menjalankan ibadah puasa, kita dianjurkan untuk memperbanyak doa, baik yang bersifat umum maupun khusus.
Alangkah baiknya jika kita tidak hanya meminta untuk kepentingan pribadi, tetapi juga memperbanyak doa untuk kemaslahatan umat, para pemimpin, ulama, serta kedua orang tua.
Dengan memahami bahwa setiap detik di bulan puasa adalah kesempatan, kita dapat mengisi waktu-waktu luang kita, baik saat bekerja maupun beristirahat, dengan rintihan doa yang tulus.
Sebab, sepanjang dahaga dan lapar itu kita tahan demi Allah, sepanjang itulah Allah memberikan perhatian khusus pada setiap permintaan kita.(*)
0 Komentar