Mengapa AI Kini Terasa Lebih 'Manusiawi' daripada Kita?

JURNAL IT - Di sebuah sudut kota London, seorang wanita bernama Anna (bukan nama sebenarnya) menemukan kenyamanan yang tidak terduga setelah mengakhiri hubungan dengan pasangannya.

Bukannya berpaling ke teman atau keluarga, ia justru lebih sering berbincang dengan ChatGPT. 

Baginya, kecerdasan buatan (AI) tersebut memberikan sesuatu yang gagal diberikan oleh orang-orang terdekatnya, ruang untuk refleksi diri tanpa penilaian.

"Teman-teman saya langsung menghakimi mantan saya dengan kata-kata seperti 'dia itu bodoh'," ujar Anna. 

Sebaliknya, AI tetap sabar, mendengarkan, dan memahami masalahnya dengan cara yang paling sesuai bagi dirinya. 

Fenomena ini bukan sekadar anomali. Riset dari Harvard Business Review pada tahun 2025 menunjukkan bahwa terapi dan pendampingan menjadi penggunaan tunggal yang paling umum untuk alat AI generatif seperti ChatGPT.

Ironi Empati Algoritma

Hal yang mengejutkan adalah fakta bahwa respons teks yang dihasilkan AI kini dinilai lebih berempati dan tulus dibandingkan respons manusia, bahkan oleh mereka yang sudah terlatih sebagai petugas layanan krisis. 

Ini bukanlah bukti bahwa AI memiliki perasaan, melainkan sebuah teguran keras bagi kita tentang betapa jarangnya manusia benar-benar mendengarkan tanpa menghakimi.

AI memang tidak memiliki empati yang nyata, ia hanya mensimulasikannya berdasarkan kumpulan data interaksi manusia yang masif. 

Namun, bagi banyak orang, mendengarkan tanpa interupsi dan tanpa sikap defensif jauh lebih berharga daripada kehadiran manusia yang sering kali terdistraksi oleh agenda pribadi atau ego.

Mengapa Kita Gagal Menjadi Pendengar yang Baik?

Sumber-sumber tersebut menyoroti beberapa kelemahan mendasar manusia dalam berkomunikasi yang justru "diperbaiki" oleh AI:

1. Gangguan dan Interupsi: Manusia sering memotong pembicaraan karena takut akan keheningan yang canggung atau ingin menunjukkan dominasi. AI, sebaliknya, diprogram untuk patuh dan menunjukkan kesabaran abadi tanpa mengalami "kelelahan empati".

2. Jebakan "Me Too": Saat seseorang berbagi penderitaan, kita seringkali memindahkan sorotan ke diri sendiri dengan cerita serupa. AI tidak memiliki pengalaman pribadi, sehingga sorotan tetap sepenuhnya berada pada si pembicara.

3. Dorongan untuk "Membereskan": Terutama mereka yang berada dalam peran pemimpin atau orang tua sering terburu-buru memberikan solusi daripada dukungan emosional. Padahal, menahan diri dari memberi saran praktis sering kali membuat orang lain merasa lebih didengar.

4. Menghindari Emosi Sulit: Kita cenderung merasa tidak nyaman dengan kesedihan yang mendalam dan berusaha menghiburnya terlalu cepat (seperti berkata "setidaknya dia sudah bahagia di sana"). AI lebih unggul dalam memberikan ruang bagi emosi sulit seperti kesedihan dan penderitaan tanpa rasa terbebani.

Pelajaran dari Sang Algoritma

Meskipun kita tidak seharusnya menukar hubungan nyata dengan model bahasa besar, ada pelajaran berharga yang bisa kita ambil dari AI untuk meningkatkan kualitas hubungan kita. 

Kita bisa belajar untuk mengenali pola emosi dan memantulkannya kembali kepada pembicara agar mereka merasa dipahami. 

Memberikan ruang bagi seseorang untuk berbagi pikiran sulit dapat menciptakan rasa aman psikologis yang memungkinkan mereka untuk bangkit melampaui masalah tersebut.

Namun, ketergantungan pada AI bukan tanpa risiko. Para ahli memperingatkan adanya potensi manipulasi terhadap orang-orang yang rentan dan risiko kehilangan keterampilan sosial dalam masyarakat. 

Hubungan dengan bot yang selalu tersedia 24/7 dan selalu positif dapat membuat seseorang tidak siap menghadapi dinamika hubungan manusia yang kompleks.

Pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh kode komputer, pengorbanan waktu dan perhatian secara sadar dari sesama manusia. 

Kehadiran seorang teman yang memilih untuk mendengarkan di tengah kesibukannya memiliki nilai koneksi dan kasih sayang yang fundamentalnya berbeda dari algoritma yang diprogram untuk menyenangkan pengguna.

Mendengarkan dengan rasa ingin tahu yang mendalam untuk memahami kemanusiaan orang lain memiliki potensi transformatif yang mungkin tidak akan pernah bisa disamai sepenuhnya oleh AI. 

AI mungkin bisa mengajari kita cara mendengar yang lebih baik, namun hanya manusialah yang bisa memberikan kepedulian yang tulus.(*)

Posting Komentar

0 Komentar