Impunitas Elit, Bagaimana Berkas Epstein Menandai Kejatuhan Gerakan #MeToo

JURNAL IT - Gerakan #MeToo dimulai dengan sebuah gagasan radikal, bahwa tidak ada orang yang terlalu kaya atau terlalu berkuasa untuk kebal hukum.

Gerakan #MeToo adalah kampanye global yang viral sejak Oktober 2017 dipopulerkan oleh Alyssa Milano, bertujuan melawan pelecehan dan kekerasan seksual, terutama di tempat kerja, dengan mendorong korban berbagi cerita untuk menunjukkan luasnya masalah ini.

Frasa ini awalnya digunakan oleh aktivis sosial Tarana Burke pada awal 2006, lalu meledak di media sosial (Twitter/X) pada 2017 menyusul tuduhan terhadap Harvey Weinstein.

Selama beberapa tahun, gerakan ini berhasil menyeret nama-nama besar seperti Harvey Weinstein, Bill Cosby, hingga Jeffrey Epstein sendiri ke pengadilan atas tuduhan pelecehan dan kekerasan seksual. 

Di dunia teknologi dan media, tokoh-tokoh kuat dipaksa mengundurkan diri atau dipecat karena budaya kerja yang toxic dan perilaku tidak pantas. 

Namun, dokumen-dokumen terbaru dari kasus Epstein mengungkapkan narasi yang berbeda, sebuah serangan balik yang terkoordinasi dari kelompok elit untuk memastikan akuntabilitas tersebut tidak pernah benar-benar bertahan.

Klub Para "Paria" dan Strategi Perlawanan

Sumber-sumber mengungkapkan bahwa Jeffrey Epstein, meski telah meninggal, seolah-olah memenangkan pertarungan ini melalui ideologi misoginis yang ia sebarkan di kalangan pria-pria paling berkuasa di dunia. 

Melalui ribuan email, terlihat jelas bahwa gerakan "anti-woke" bukan sekadar diskusi intelektual tentang kebebasan berbicara, melainkan sebuah lingkaran sosial orang-orang kuat yang merasa terancam oleh #MeToo.

Epstein sendiri bertindak seperti penasihat bagi pria-pria yang "dibatalkan" (canceled) oleh publik. 

Ia memantau gerakan #MeToo dengan cermat dan bahkan mengusulkan pembentukan "Pariahs Club" (Klub Paria) yang beranggotakan tokoh-tokoh seperti Woody Allen, Louis C.K., dan Charlie Rose. 

Dalam korespondensinya, Epstein memberikan saran kepada para intelektual dan tokoh publik tentang cara menghadapi tuduhan pelecehan, bahkan menyebut perempuan yang terlibat dalam komite perdamaian sebagai "jalang metoo" (metoo bitch).

Pencucian Reputasi Lewat Sains dan Teknologi

Salah satu cara kelompok elit ini melawan #MeToo adalah dengan membangun pengaruh di dunia sains dan teknologi. 

Epstein menggunakan yayasannya untuk mendanai Edge Foundation milik John Brockman, yang menjadi wadah bagi para intelektual pria untuk menyebarkan gagasan bahwa kurangnya perempuan dalam bidang sains bukan karena diskriminasi, melainkan karena perempuan dianggap "lemah" atau "tidak tertarik".

Acara-acara eksklusif seperti "Billionaires Dinner" mempertemukan Epstein dengan nama-nama besar seperti Elon Musk, Sergey Brin, Jeff Bezos, dan Bill Gates. 

Jaringan ini memungkinkan Epstein untuk mencuci reputasinya, meskipun ia adalah terpidana kasus prostitusi anak, ia tetap bisa bergaul dengan para jenius dunia, yang kemudian menciptakan persepsi bahwa mempedulikan pelecehan seksual adalah hal yang picik.

"Vibe Shift" dan Matinya Akuntabilitas

Tokoh-tokoh seperti Peter Thiel dan Elon Musk muncul sebagai pemimpin baru dalam gerakan yang meremehkan nilai-nilai kesetaraan. 

Thiel diduga mendanai apa yang disebut sebagai "vibe shift", di mana feminisme dianggap memuakkan (cringe) dan penghinaan terhadap kelompok minoritas dianggap "keren". 

Istilah "anti-woke" digunakan sebagai label untuk menutupi tujuan sebenarnya, melawan akuntabilitas.

Elon Musk, yang memiliki sejarah panjang dalam melanggar aturan, juga terlihat dalam berkas Epstein meminta jadwal pesta di pulau pribadi sang pedofil. 

Musk menggunakan platformnya untuk membangun kekuatan politik dan sosial yang membuat hukum seolah tidak berlaku bagi mereka yang memiliki uang cukup.

Dunia yang Diinginkan Epstein

Kejatuhan #MeToo mencapai puncaknya ketika pengaruh para sekutu Epstein merambah ke pemerintahan tertinggi Amerika Serikat. 

Pengangkatan tokoh-tokoh yang memiliki sejarah tuduhan pelecehan ke posisi kunci menunjukkan bahwa impunitas elit telah menjadi sistemik. 

Bahkan, rilis berkas Epstein yang baru-baru ini terjadi justru lebih banyak membahayakan para korban, dengan bocornya foto-foto tanpa busana dan ancaman kematian daripada memberikan keadilan.

Pada akhirnya, sumber-sumber ini menunjukkan bahwa kita sekarang hidup di dunia yang diinginkan Epstein, sebuah tempat di mana hukum hanya berlaku bagi mereka yang tidak memiliki kuasa, sementara para elit di puncak piramida dapat terus melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa takut akan konsekuensi. 

Akuntabilitas yang diperjuangkan oleh gerakan #MeToo kini menghadapi tantangan terbesar dari jaringan kekuasaan yang lebih solid dan terorganisir dibandingkan sebelumnya.(*)

Posting Komentar

0 Komentar