Sengkarut Hak Cipta, Karakter Disney Terjebak dalam Pusaran AI Seedance

JURNAL IT - Bayangkan melihat Spider-Man bertarung melawan Captain America di jalanan New York, atau Anakin Skywalker berduel sengit dengan Rey menggunakan lightsaber, semuanya dalam kualitas visual yang sangat realistis, namun video tersebut dibuat hanya dengan perintah teks singkat.

Inilah fenomena Seedance 2.0, aplikasi kecerdasan buatan (AI) besutan raksasa teknologi China, ByteDance, yang kini tengah memicu kemarahan di Hollywood.

Keberhasilan Seedance menciptakan konten yang tampak nyata justru menjadi bumerang. 

Disney baru-baru ini melayangkan surat peringatan keras (cease-and-desist) kepada ByteDance, menuduh perusahaan tersebut telah melakukan "virtual smash-and-grab" atau perampasan virtual terhadap kekayaan intelektual mereka. 

Disney mengeklaim bahwa Seedance menggunakan perpustakaan bajakan yang berisi karakter-karakter berhak cipta dari waralaba Marvel, Star Wars, hingga berbagai kartun ikonik.

Langkah Disney ini didukung oleh berbagai pihak di industri hiburan. 

Motion Picture Association, yang mewakili studio besar seperti Netflix dan Warner Bros Discovery, mendesak agar Seedance segera menghentikan aktivitas pelanggaran tersebut. 

Bahkan, serikat aktor Sag-Aftra menuduh Seedance melakukan pelanggaran terang-terangan.

Respons ByteDance dan Langkah Penyelamatan

Menghadapi ancaman hukum tersebut, ByteDance menyatakan bahwa mereka berjanji untuk membatasi alat pembuatan video AI miliknya. 

Kepada BBC, ByteDance menegaskan bahwa mereka menghormati hak kekayaan intelektual dan sedang mengambil langkah-langkah untuk memperkuat perlindungan guna mencegah penggunaan tanpa izin atas karakter maupun kemiripan wajah tokoh tertentu.

Meskipun demikian, ByteDance belum merinci detail teknis mengenai sistem keamanan yang akan mereka terapkan. 

Sebelumnya, mereka telah menonaktifkan kemampuan pengguna untuk mengunggah gambar orang asli ke dalam platform tersebut.

Masalah hukum Seedance tidak terbatas pada Disney saja. Paramount Skydance dilaporkan telah mengirimkan surat tuntutan serupa agar Seedance berhenti menggunakan konten mereka. 

Di sisi lain, pemerintah Jepang juga meluncurkan investigasi terhadap ByteDance setelah munculnya video AI yang menampilkan karakter anime populer tanpa izin.

Sengketa ini mencerminkan ketegangan besar antara inovasi AI dan perlindungan hak cipta. 

Menariknya, Disney sendiri sebenarnya tidak menutup diri dari teknologi ini, tahun lalu, mereka menandatangani kesepakatan senilai $1 miliar dengan OpenAI (pencipta Sora), memberikan akses resmi ke 200 karakter mereka untuk pengembangan platform tersebut.

Kasus Seedance menambah panjang daftar konflik hukum di dunia AI, serupa dengan gugatan yang masih berlangsung terhadap generator gambar seperti Midjourney. 

Di tengah perlombaan teknologi yang kian cepat, industri kreatif kini berjuang keras untuk memastikan bahwa karya intelektual mereka tidak habis dilalap oleh algoritma tanpa izin dan kompensasi yang adil.(*)

Posting Komentar

0 Komentar