JURNAL IT - Bayangkan para petinggi teknologi dunia, termasuk CEO Meta Mark Zuckerberg, harus duduk di kursi saksi untuk mempertahankan desain platform mereka di hadapan juri.
Tahun 2026 menandai tahun penghakiman (legal reckoning) bagi perusahaan media sosial atas dugaan kegagalan mereka dalam melindungi anak-anak dari dampak buruk dunia maya.
Gelombang Gugatan "Bellwether" yang Bersejarah
Di Amerika Serikat, ribuan kasus yang melibatkan individu, distrik sekolah, hingga jaksa agung negara bagian kini mulai memasuki ruang sidang.
Kasus-kasus ini dikelola melalui mekanisme uji coba bellwether, yaitu serangkaian persidangan terpilih yang mewakili ribuan klaim serupa.
Hasil dari persidangan ini sangat krusial karena akan menentukan jumlah ganti rugi serta menjadi dasar kesepakatan damai (settlement) massal di masa depan.
Signifikansi hukum dari kasus-kasus ini tidak dapat diremehkan. Selama bertahun-tahun, platform media sosial dilindungi oleh Section 230, sebuah undang-undang yang membuat mereka tidak bertanggung jawab atas konten yang diunggah pengguna.
Namun, para penggugat kali ini berhasil melampaui hambatan tersebut dengan berfokus pada keputusan desain platform yang dianggap berbahaya.
Matthew Bergman, pendiri Social Media Victims Law Center, menyatakan bahwa momen di mana perusahaan media sosial harus mempertanggungjawabkan desain mereka di depan juri adalah hal yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam yurisprudensi Amerika.
Dari Kecanduan Remaja hingga Ancaman Predator
Persidangan pertama yang dimulai di pengadilan negara bagian California melibatkan seorang remaja berusia 19 tahun (diidentifikasi sebagai K.G.M.) yang mengaku mengalami kecanduan parah terhadap berbagai aplikasi media sosial hingga merusak kesehatan mentalnya.
Meskipun Snap telah memilih untuk berdamai secara kekeluargaan, Meta, TikTok, dan YouTube tetap menjadi tergugat dalam kasus ini.
Selain kasus individu, terdapat dua lini tuntutan besar lainnya:
1. Gugatan Distrik Sekolah: Ratusan distrik sekolah berargumen bahwa desain platform yang membuat siswa menggunakan aplikasi secara kompulsif telah menguras sumber daya sekolah untuk menangani masalah kesehatan mental siswa.
Dalam proses hukum ini, terungkap dokumen internal Meta yang diduga membandingkan Instagram dengan narkoba.
2. Kasus New Mexico: Jaksa Agung New Mexico menggugat Meta karena diduga menciptakan "pasar bagi predator" anak.
Dalam investigasinya, pemerintah menggunakan akun umpan anak-anak dan menemukan bahwa algoritma platform justru mendekatkan mereka pada predator seksual.
Di sisi lain, perusahaan-perusahaan teknologi tersebut membantah keras tuduhan yang ada.
YouTube menyatakan bahwa memberikan pengalaman yang aman dan sehat bagi kaum muda adalah inti dari pekerjaan mereka.
Perwakilan Meta, Andy Stone, berpendapat bahwa menyalahkan media sosial atas masalah kesehatan mental remaja adalah sebuah "penyederhanaan yang berlebihan atas masalah yang serius" dan mereka yakin bukti di persidangan akan menunjukkan komitmen jangka panjang perusahaan terhadap keselamatan anak.
Apapun hasil akhirnya, persidangan-persidangan ini diprediksi akan mengungkap bukti-bukti internal tentang apa yang sebenarnya diketahui oleh perusahaan mengenai bahaya platform mereka.
Tekanan ini kemungkinan besar akan memaksa adanya perubahan desain pada aplikasi yang kita gunakan sehari-hari dan mendorong pembuat kebijakan untuk mengesahkan aturan yang lebih ketat guna melindungi generasi muda di masa depan.
Tahun 2026 bukan sekadar tentang denda uang, melainkan tentang menuntut akuntabilitas dari arsitek dunia digital kita.(*)
0 Komentar